Header Ads

Mayat Naik Ojek, Ini Faktanya





Wanita Hebat....
Bagaimana Naluri seorang Ibu menunjukkan kekuatan dan harga dirinya.
Bisa saja ibu ini mengamuk dan berteriak teriak
Di Rumah Sakit itu
Tapi tidak dia lakukan,
Karena tidak ingin mengusik Jenazah Anaknya yang ada dalam Buaiannya.
Wanita ini memilih Diam
Dengan menggunakan Ojek, dia menggendong jenazah anaknya
Membawanya Pulang ke Kampungnya.
Ya ke kampungnya di Desa Pedalaman
Jika ada iringan Irama,
Irama Ambulan Zig-zag Iwan Fals yang cocok
Ojek dari Kota ke Desa jaraknya 45 Menit
Entah Do'a apa yang ibu ini munajat kan
Sepanjang Perjalanan Hatinya Gundah
Perlakuan tak pantas terhadap Jasad Putranya
Dia pendam kedalam sanubarinya...
Hingga tiba di Kampungnya.
Hati siapa tak teriris melihat Sang Ibu ini
Membuat Murka siapapun yang melihatnya
Kisah antara Hati Nurani dan Kebengisan zaman
Ibu yang Sabar ini tahu kadarnya
Tahu bahwa Buah hatinya akan menjadi Saksi atas Pembelaannya.
Beristirahatlah dengan tenang...
Nak ...
Kelak engkau dihadapkan di Padang Mahsyar
Jadilah Saksi kebaikan Ibumu
Rasulmu akan menjadi Saksi Bagimu
Dan engkau akan menjadi saksi peradaban manusia Lainnya.
Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un
Status facebook Iyek Faris (slah satu netizen)

Potret kepulangan jenazah

Bima, jerat.co.id Viral di dunia maya kisah pilu seorang ibu melahirkan bayi meninggal dan pulang dengan menggunakan ojek. Potret kebobrokan pelayanan di RSUD Bima yang tega membiarkan mayat bayi diangkut dengan menggunakan ojek rabu malam lalu.

Netizen pun beragam mengkonsumsi, menggiring istilah antara ‘Ojek’ dengan ‘Ambulance’. padahal dibalik ini ada hal yang sangat miris telah terjadi pasca melahirkan.

Dikisahkan Nurwahidah Ibu Kades yang juga kakak korban, “Adik saya Suhada selama tiga hari di rawat inap sampai melahirkan, karena dikabarkan anaknya meninggal, saya bergegas menggunakan motor menuju rumah sakit dengan membawa 3 kain sarung,” urainya di depan Dirut RSUD jumat (16/3).

“Setiba di rumah sakit, saya langsung menghadap Bidan di ruang NICU untuk konsultasi kepulangan jenazah, di sana saya dibebankan untuk menebus biaya rawat inap 3 hari sebesar 1,8 juta, sayangnya saat itu saya tidak memegang uang sepeserpun,” terangnya dihadapan awak media yang hadir saat itu.

Dengan sangat terpaksa Nurwahidah mewakili pasutri tidak mampu ini, harus menyerahkan KTP dan KK sebagai jaminan, “Besok harus antarkan uang sejumlah itu, dan biarkan orang lain yang melakukan prosesi penguburan jenazah,” ketusnya mengulang pesan yang disampaikan bidan.

Biaya ini dibebankan karena yang ditanggung BPJS hanya untuk ibu bukan untuk anak, “Itu pengakuan bidan, sementara proses pengurusan BPJ untuk anak ini harus menunggu 14 hari, dan tidak mungkin kami menunggu selama itu baru boleh melakukan penguburan,” ujarnya terbata.

Dengan jaminan dan kesanggupan untuk bayar keesokan hari, akhirnya mayat diperbolehkan dibawa pulang, “Kami tidak berani meminta jasa ambulan dan juga tidak ditawari, hanya disarankan sebaiknya menggunakan motor karena jika memakai jasa angkutan biayanya mencapai 500 ribu,” kata ibu kades.

Diselimuti kain sarung mayat bayi itu diboyong pulang dengan jarak tempuh puluhan kilo meter, “Saat itu sudah ba’da isya lagi gerimis, satu motor kami berempat menuju desa Waro. Saya sempat menangis saat menyebrangi sungai akibat tidak ada jembatan, kuatir jatuh bersama bayi dalam gendongan,” kisahnya dengan linangan air mata.

Mendengar kisah ini direktur RSUD Bima drg H Ihsan MPH didampingi sekretaris dan Kasi Pengendalian Pelayanan ikut terharu dan untuk kesekian kalinya menyampaikan permohonan maaf, “Kejadian ini benar-benar pukulan bagi kami, sekalipun saat itu saya tidak memperoleh akses informasi tapi tetap saja kami mengaku salah dan menyampaikan permohonan maaf,” ucapnya dengan nada sendu.

Dua orang bidan yang dimaksud sejak kemarin telah diperiksa, “Seharusnya sejak kemarin saya ingin datang ke sini, namun karena harus menggelar rapat terkait persoalan ini sehingga kami baru sempat hadir hari ini, walaupun lebih awal pak Busran selaku Kasi Pengendalian Pelayanan telah kami utus, namun itu kami rasa belum cukup jika saya tidak hadir langsung di hadapan keluarga di sini,” terangnya.

Terkait persoalan biaya yang ditanggung BPJS, Ihsan menjelaskan, “Akan ada komunikasi lebih lanjut terkait penanggungan BPJS terhadap anak yang baru lahir, apakah hanya ibu saja atu berikut anak,” kata Ihsan.

Di tempat yang sama ketua BPD Waro Zainul Arifin menegaskan, “Cukuplah kejadian ini dialami oleh keluarga kami di Waro, semoga tidak terulang kembali pada warga miskin lainnya.” Tegasnya.

“Tentunya juga kehadiran pihak RSUD hari ini sangat mengobati kekecewaan kami dan atas nama keluarga, saya sampaikan terima kasih,” tutup paman korban ini.

Kepuasan keluarga korban juga terwujud dengan kehadian wakil Bupati Bima Drs. H. Dahlan M. Nur selepas jumat tadi yang secara langsung menyambangi kediaman pasutri miskin ini.

[Jr.1]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.