Header Ads

Membaca Peluang Politik Pilkada Kota Bima



A. Heris : "Itu Simpel Untuk Dibaca"

A. Heris, SH (Heris Ompu Kapa'a)
Kota Bima, jerat.co.id - Politik yang ditampilkan di ruang publik seperti Pilkada Kota Bima bisa membingungkan orang awam, bisa menumbuhkan ruang dialektika persepsi tak berujung bagi yang setengah matang.

Tapi bagi yang jeli menganalisa akan dengan mudah menyimpulkan hasil akhir dengan membaca fenomena-fenomena sebagai variabel penilaian.

HML-FS adalah pasangan yang syarat dengan fenomena, berhasil merangkul partai pengusung secara mayoritas tapi juga tidak sukses ful mengunci kandidat lain untuk tidak mendapatkan parpol pengusung.

Artinya, mekanisme kerja politik yang digagas oleh HML-FS membuka pintu ancaman yang tidak ringan yang potensial menghambat kerja konsolidasi merapikan raihan suara diakar rumput. Sisi lain, model kerja politik yang dirancang pasangan HML-FS memakan biaya tinggi dengan asumsi parpol pengusung memprasyaratkan mahar.

Fenomena H.MAN-FERRA AMELIA mencerminkan peristiwa politik yang 'fenomenal'. Mereka di sokong oleh parpol yang jumlahnya jauh lebih kecil dari jumlah parpol yg mengusung HML-FS. Saat yang sama, H.MAN-FERA AMELIA di ruang publik dihantam dengan isu banjir & isu dinasti, ternyata dua isu ini tidak relevan mematikan langkah dan kiprah konsolidasi politik mereka.

Kondisi ini terjadi karena pasangan HML-FS yg terlanjur dideklarasikan sebagai simbol kekuatan politik baru tidak sepadan dengan kerja politik yang bisa mengubah dan memindahkan arus keberpihakan mayoritas.

Situasi ini secara politik memudahkan peta konsolidasi dan pilihan-pilihan isu yang mengakar di bathin publik bagi kandidat lain seperti H.MAN-FERA AMELIA maupun kandidat yang bakal maju dijalur independen H. Qurais yang punya kecakapan kerja politik di arus bawah-masa pemilih dengan jaringan terbuka dan tertutup yang dimiliki secara terang benerang berpihak ke pasangan H. MAN-FERA AMELIA dan mudah sekali dibaca dengan kerelaan H. Qurais menyerahkan partai demokrat! Lantas, Umi Fera rela berada pada urutan ke dua padahal dalam Pilkada Kota yang lalu beliau unggul meraih suara yang tidak terpaut jauh dengan perolehan suara yang memenangkan H. Qurais.

Hemat saya, ada peran politik yang tidak nampak menggalang komunikasi dengan H. Qurais hingga mereka punya kalkulasi dan kesimpulan menang sebelum perhitungan suara pada pilkada kota pertengahan tahun 2018 yang akan datang.

IDP berdasarkan garis partai menjadi JURKAM HML-FS, lalu dinilai sebagai keretakan dengan Umi Fera? Sungguh satu kekeliruan. Karena pada prinsipnya IDP wajib taat atas perintah partai tetapi ketaatan itu bukan tanda keretakan dengan Umi Fera, ajaran istana, biarkan diluar pecah tetapi selalu solid dari dalam. Itu adabnya.! Jadi, titik temu H. QURAIS dengan IDP sebuah tanda kedikdayaan kelanjutan konsolidasi kekuasaan masa datang.


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.