Header Ads

Bantuan Bibit Jagung Untuk Poktan Masih Disorot



Bima, jerat.co.id Setelah polemik bantuan bibit bawang merah yang hingga kini masih santer dipertanyakan kejelasan hukumnya, kini giliran penyaluran bibit jagung biji 18 kian mencuat. Dari pejabat tinggi, sampai tingkat wilayah dan oknum tertentu ambil bagian menjarah kepentingan para petani.

Petani telah menjadi komoditas yang empuk untuk ditunggangi kepentingan segolongan orang, PETANI telah berubah wujud menjadi harta karun untuk oknum-oknum ini, seluruh kebutuhan atas nama petani dari urusan bibit, dan obat-obatan, peralatan bahkan hingga bagaimana cara petani membuang gas, telah dieksploitasi untuk memperkaya diri orang-orang ini.
Di lapangan mereka tidak mau tahu para petani itu sendiri jotos-jotosan berebut ampas, terjadi kesenjangan bahkan berujung konflik antar warga.

Di desa Waro kecamatan Monta, beberapa waktu terakhir santer disorot baik proses penyaluran maupun sasarannya, sebab menurut sebagian warga, benih jagung biji 18 ini disinyalir tidak sampai ke tangan petani bahkan dicurigai telah dijual oknum ketua kelompok.
Heri salah satu tokoh pemuda desa setempat mempertanyakan keberadaan bibit ini, “Kami dibuat bingung karena sosialisasi kehadiran benih ini tidak jelas, berapa dan kelompok mana saja yang diarahkan,” ujarnya.
“Kami curiga benih ini telah dijual oknum ketua kelompok, karena harga benih ini cukup menggiurkan yakni antara satu hingga satu setengah juta setiap dus,” tandas pria ini senin lalu.
Bahkan diantara kelompok sasaran ada yang diberi bantuan namun tidak memiliki lahan garap jagung, di lain pihak benih ini juga masih dipertanyakan disalurkan kepada anggota kelompok yang mana.

“Beberapa anggota saya melaporkan, pernah melihat benih-benih ini diangkut ke luar desa, benih ini dari kelompok mana masih kami telusuri. Yang jelas, kami menduga benih-benih ini dijual untuk kepentingan oknum ketua kelompok,” papar Heri.

Parahnya juga kata Heri, anggota kelompok ada yang diberikan benih ini namun bukan Biji 18, “Kenapa ini bisa terjadi, atas petunjuk siapa bibit ini dapat diganti,” ketusnya.
Di tempat terpisah M. Yamin salah satu ketua kelompok yang memperoleh bantuan mengaku bibit untuk kelompok Doro Rue yang diketuainya telah dicuri orang, “Jatah kelompok kami sebanyak 16 Dus untuk 15 Ha. Karena penyalurannya tidak tepat waktu sehingga kami menunda pembagian pada anggota sambil menunggu masa tanam yang tepat,” terangnya ditemui di Mapolsek Monta.

Namun pada akhir november tepatnya tanggal 26 hari jumat malam, kediaman ketua kelompok dibobol maling, “Saat itu saya ingat betul sepulang menghadiri pembukaan MTQ Desa, saya dikabarkan bahwa rumah saya dibobol maling, kejadiannya sekitar pukul 01 dini hari,” jelasnya.
Yamin yang juga sekretaris desa ini mengaku bibit jagung yang disimpanya ludes dijarah pencuri, “Tujuannya untuk mengamankan, tapi justru bibit itu dijarah,” keluhnya.

Sementara Jaharuddin ketua kelompok Raba Peto dikonfirmasi mengaku tidak mendapat bantuan, padahal menurutnya lokasi kelompok Raba Peto bertpotensi untuk ditanami jagung, “Kok diberikan pada kelompok Kontu Rasa yang jelas-jelas tidak memiliki lahan untuk ditanami jagung pada MK 1 ini, seharusnya pihak terkait segera mengambil tindakan untuk pengalihan pada warga yang memiliki lahan tapi tidak mendapatkan bantuan,” harapnya.

[Leo]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.