Header Ads

Telusur Jejak Indikasi ‘Mark Up’ BOS SMAN 1 Monta


atas (dipalsukan) bawah (Asli)

Bima, Jerat Online – Seperti berita sebelumnya terkait dugaan Mark Up dana BOS SMAN 1 Monta selama kepemimpinan Nurul Mubin, S.S.,M.Pd, yang mana pengakuan mantan bendahara  Wahidin, S.Pd membeberkan posisi keuangan belasan hingga puluhan juta mengalir ke tangan kepala sekolah pada setiap kali penarikan.

Dijelaskan pula pada berita sebelumnya diduga modus pertanggungjawaban uang yang ditangani kepala sekolah itu dengan memanipulasi laporan bulanan pada item-item habis pakai seperti perawatan gedung, perawatan listrik dan air, perawatan komputer, kebersihan serta belanja sejumlah jenis barang dengan keyakinan ini sulit ditelusuri.

Namun demikian, selihai apapun upaya yang dilakukan untuk menutupi hal itu justru memudahkan telusur Jerat pada dokumen pelaporan yang telah diajukan ke dinas terkait.
Pada LPJ tersebut setiap nominal yang dilaporkan tertera nama penerima anggaran, dari sinilah penelusuran bermula.

Sebut saja pada belanja barang yang bersumber dari UD Wijaya, saat Jerat menunjukkan nota bon yang dilampirkan dalam laporan pada Sri Sigit pemilik toko pada sabtu (4/6) dengan mimik tercengang dan nada yang cukup tinggi membantah bahwa barang-barang yang tertuang pada nota tersebut dari toko miliknya. “Barang-barang ini bukan dibeli dari toko kami, pernah ada diambil cash bon Jaitun berupa cat tembok dua kilo. Bahkan ada bon sekolah sekitar satu juta lebih yang belum dibayar sampai sekarang dan itu dalam bentuk rokok dan lainnya,” ungkap Sri.

“Pernah bendahara datang beli air mineral beberapa dus tapi minta nota stempel banyak sekali, dengan terpaksa saya kasi tapi tidak diparaf, dan saya pesan bahwa nota ini hanya untuk barang yang dibeli di toko saya bukan disalah gunakan,” tegas Sri di tokonya desa Tangga.
Minggu (4/6) Amiruddin dan Muridan yang keduanya adalah penjaga SMAN 1 Monta pada waktu yang bersamaan dikonfirmasi terkait pemalsuan tandatangan atas kuitansi pengeluaran pos perawatan dan pembelian barang habis pakai yang juga diduga fiktif, pengakuan mereka bahwa tidak ada pendapatan lain selain dari honor komite dengan nilai 450 rb perbulan, “Kami tidak tahu menahu uang taman, kebersihan apalagi perbaikan dan perawatan air dan instalasi listrik. Kalau perbaikan papan tulis atau pintu yang pernah dilakukan tapi hanya dikasi rokok, nasi bungkus dan uang masing-masing 100 ribu,” kata Amiruddin yang dibenarkan Muridan di rumah penjaga SMAN 1 Monta.

Bahkan alat kebersihan yang dilaporkan pembelian setiap bulan itu dibantah keras, “Apalagi alat pel, itu dibeli sejak H. Sulis (Kasek sebelumnya-red) tidak ada yang tambah bahkan kondisinya sudah rusak. Demikian pula dengan tanda tangan, jelas dipalsukan karena itu bukan tanda tangan kami,” tegas mereka.

“Apalagi tandatangan yang ada di laporan itu jelas bukan tandatangan kami, demi Allah itu bukan,” tegas Muridan sambil mempraktikkan contoh tanda tangan asli mereka.

Di tempat yang sama salah satu warga Suhfin yang juga adik ipar Amiruddin menimpali, “Jika ini benar adanya maka pihak sekolah sengaja memanfaatkan para pegawai seperti kalian ini, untuk menutupi uang yang telah dia ambil dari dana BOS,” timpalnya.

kepala sekolah yang coba dihubungi via selulernya minggu (4/6) pukul 18.31 wita tidak memberikan tanggapan

[Leo]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.