Header Ads

Solstis, Badai Yvette Dan Banjir Bima


kondisi kota bima saat banjir mulai surut

Pada Hari Kamis, tanggal 21 Desember 2016. Pukul 18.44 WIT, merupakan titik balik Matahari musim dingin di belahan Bumi utara, dan titik balik Matahari musim panas di belahan Bumi selatan.Kejadian alam ini disebut solstis.

Solstis Desember menandai peristiwa ketika Matahari berada tepat di atas kepala untuk wilayah-wilayah yang terletak di Tropic of Capricorn. Pada solstis Desember ini, siang hari akan berlangsung lebih cepat di belahan Bumi utara, dan berlangsung lebih lama di belahan Bumi selatan. Untuk Indonesia, perbedaan siang malam tidak akan jauh berbeda karena kita berada di ekuator.

Solstis Desember terjadi ketika Matahari mencapai deklinasi paling selatan, yakni -23,4 derajat. Dengan kata lain, wilayah Kutub Selatan akan lebih condong ke Matahari dibandingkan Kutub Utara. Hal tersebut akan membuat Matahari tidak akan terbenam di Antartika hingga 6 bulan ke depan, dan Matahari tidak akan terbit di Arktik.
Akibat dari fenomena alam ini bisa saja mempengaruhi terjadinya badai Yvette yang bergerak mengitari sekitar Samudera Hindia, dan mempengaruhi intensitas hujan di Kabupaten Bima, Kota Bima dan secara keseluruhan pulau Sumbawa.

Informasi dari Badan Nasional Penanggulangan bencana (BNPB) yang dihimpun dari berbagai media online, menjelaskan siklon tropis Yvette menjadi pemicu terjadinya banjir bandang di Bima dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Siklon Torpis Yvette itu saat ini tepat berada di Samudera Hindia Selatan Bali, sekitar 620 km sebelah selatan Denpasar dengan arah dan kecepatan gerak Utara Timur Laut telah menyebabkan hujan deras di wilayah Indonesia bagian selatan.

Merujuk pada data BMKG, sebelumnya telah diprediksi siklon tropis akan terjadi pada 22 Desember 2016 dan masih berada di Samudera Hindia sekitar 590 km sebelah selatan Denpasar dengan arah dan kecepatan gerak Timur Laut dan kekuatan 85 km/jam (45 knot).

Dengan kondisi tersebut maka siklon tropis Yvette ini akan memberikan dampak terhadap cuaca di Indonesia berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terjadi di wilayah Jawa Timur bagian Timur dan Selatan, Bali, NTB dan NTT.

Selain itu gelombang laut dengan ketinggian antara 2.5 - 4.0 meter di wilayah Laut Jawa bagian tengah dan timur, Samudera Hindia selatan Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Perairan selatan Jawa Tengah hingga NTB, Selat Bali bagian selatan, Laut Sumbawa, Laut Flores bagian barat. Gelombang laut dengan ketinggian lebih dari 4.0 meter di wilayah Samudera Hindia selatan Bali hingga NTT. Sedikit tidak, pengaruh Solstis ini mengakibatkan cuaca seperti hujan dan badai yang perlu diwaspadai.

Setelah Matahari mencapai titik paling selatan di kubah langit pada solstis Desember ini, kita akan menyaksikan Matahari akan tampak berada di titik muncul yang sama selama beberapa hari sebelum akhirnya ia mulai bergerak lagi ke lintasan utara sampai solstis Juni 2017 mendatang.
Fenomena  solstis pada Desember ini, kita juga merayakan (secara tidak resmi) hari pertama musim dingin di belahan Bumi utara dan hari pertama musim panas di belahan Bumi selatan. Mengapa tidak resmi? Karena awal musim dingin dan musim panas yang dianggap dimulai ketika soltis merupakan sebuah tradisi, bukan keputusan yang resmi.

Menelisik persoalan banjir Bima, itu hal yang wajar walaupun membutuhkan kesadaran kita semua dan bukan hal untuk diperdebatkan, itu hanya secuil teguran yang diperuntuka bagi penghuni Bumi.  Tidak mesti cambuk ataupun cemeti  yang akan menyadarkan kita. Cukup  kita berbenah dan belajar pada alam ini, karena sesungguhnya alam tidak pernah letih untuk menjawabnya.*
Dihimpun dari berbagai sumber*

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.