Header Ads

Filosofi Kopi Dan Wudhu ‘Alat Vital Revolusi’



Muhammad Isnaini AR
Konon salah satu alasan kaum imperialis melakukan ekspedisi lalu menjajah suatu bangsa lain disebabkan oleh kebutuhan akan hasil bumi yang didalamnya termasuk rempah-rempahnya dan KOPI merupakan bagian dari hal tersebut. KOPI menjadi suatu komoditas unggulan hasil bumi yang sangat di butuhkan oleh manusia. Dee Lestari dalam Novelnya "Filosofi Kopi" sangat manis menguraikan, membawa pembacanya larut kedalam rasa tentang KOPI dan tentang Cinta. 

KOPI punya rasa, aromanya meruntuhkan tingkatan kelas manusia, menghilangkan perbedaan keyakinan ketauhidan, menyatukan warna kulit, menyambungkan batasan ras, suku dan bangsa. Usia tidak ada batasan, kelamin tidak ada kelainan, menyatu bersama sebagai penikmat KOPI. 

Jika kita tarik ke ranah yang sedikit serius, bukan hanya di batasi pada konteks menghidangkan dan menikmati KOPI, katakan konteks seriusnya dalam hal berbangsa dan bernegara, maka kita akan menemukan bahwa KOPI memiliki peran sentral. 

Sejarah sebagian besar bangsa-bangsa di dunia khususnya bangsa Indonesia, peran sentral KOPI tidaklah dapat di nafikan. Dalam perumusan-perumusan tentang dasar-dasar negara atau dialektika kebangsaan para pemikir bangsa, KOPI selalu hadir sebagai menu Utama (jika tidak ingin mengatakan wajib) di tengah-tengah mereka. KOPI bagaikan alat vital Revolusi. KOPI adalah REVOLUSI itu sendiri. Maka tak heran, tidak sedikit yang mengatakan KOPI adalah sumber inspirasi kaum revolusioner (walau banyak pula hal lain yang menjadi pilar sumber inspirasi). 

Banyak alasan sebagai logika pembenar para penikmat KOPI. Alasan tersebut beragam sebagaimana beragamnya entitas manusia yang menikmati ragam cita rasa KOPI. Pada pokoknya mereka memiliki alasan tersendiri yang tidak mampu di wakili maupun di rubah oleh siapapun. Termasuk penulis pun adalah bagian dari mereka para penikmat KOPI. Itulah nuansa mistiknya KOPI, selalu bicara tentang Rasa dan Rasa yang dimana para perasa menyerahkan soal rasa pada rasa yang KOPI ungkapkan. Penulis selalu berkata "Biarkan KOPI Mengungkap Rasa Aromanya". 

Namun belakangan, penulis selalu mendapat pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya penulis hanya lakukan dengan senyum bukan dengan kata-kata. Hingga suatu ketika masa itu tiba, jawaban penulis begitu panjang atas pertanyaan tentang penulis tidak lagi menikmati rasa aromanya KOPI. 

Jika dulu, perjalanan sejarah bangsa indonesia tidak bisa di lepaskan dari KOPI sehingga melahirkan Proklamasi Kemerdekaan bahkan sebagian kita pun mengatakan era Revolusi (karena soekarna selalu dengan lantang meneriakan Revolusi yang pula diperkuat dengan sebutan Kontra Revolusi terhadap penentangnya) maka tidak berlebihan kiranya KOPI dikatakan bagian dari alat vital REVOLUSI. 

Sependapatlah kita dengan bahasa Soekarno, jangan melupakan sejarah. Jika dulu KOPI bagian dari REVOLUSI maka pandangan kita bolehlah memandang lebih dulu lagi, tentang kejayaan Islam.! Kejayaan Islam lahir tumbuh besar dan berkembang adalah bukan karena peran Sentral KOPI, KOPI bukan alat Vital melainkan yang memiliki peran sentral dan alat vitalnya adalah WUDHU. 

Dari atas pokok bahasan penulis garis besarnya tentang dulu dan lebih dulu, maka penulis akan mencoba menguraikan tentang sekarang dan nanti. Era modern, melahirkan sebagian besar rasa pesimis dan rasa skeptis manusia terhadap peran sentral agama dalam pola laku hidup, termasuk dalam berbangsa dan bernegara. Rasa tersebut tidak menutup kemungkinan akan menertawakan tentang WUDHU alat Vital Revolusi. Untuk mematahkan logika manusia modern yang mengedepankan rasionalitas (bahkan menuhankan rasionalitas) maka penulis mencoba menggunakan teori postmodern. Yang dimana teori post modern mengatakan bahwa manusia tidaklah dapat menyerahkan atau semata menggunakan rasionalitasnya melainkan merekapun membutuhkan nilai-nilai religiusitas untuk membasahi kekeringan kalbu dan nurani. 

Coba kita uji kebenaran teori tersebut diatas. Kebenaran apa yang di katakan Modernitas dan Kebenaran apa yang dikatakan postmodernitas. Di kota-kota besar kehidupan religiusitas masyarakat semakin tumbuh berkembang secara pesat. Majelis-majelis dzikir selalu rutin melakukan pengajian dan dzikir dengan ditandai animo masyarakat yang semakin tinggi pula untuk melibatkan diri. Rohani masyarakat modern yang kering karena selalu menyerahkan segala sesuatu tentang kehidupan pada rasionalitas kini mulai membutuhkan air untuk membasuh dan membahasi. Rohani yang kering tidak dibasahi dengan air mineral atau sejenis, melainkan harus dibasahi dengan religiusitas dan itulah yang dimaksud dalam teori postmodern.

Bagaimana Turki sebagai bangsa sekuler, bangsa yang mengedepankan rasionalitas kini berubah total. Masyarakat menjadi sangat religius begitupun pemimpin tertingginya Presiden ERDOGAN. Wudhu dan sholat berjamaah menjadi alat vital kekuataan pemersatu Rakyat Turki termasuk Para pemimpin Turki. WUDHU menjadi ALAT VITAL REVOLUSI. 

Lalu kemudian Indonesia.? Tanda-tanda akan yang demikian sudah sangat tampak. Bagaimana umat islam mulai menyatu. WUDHU membasuhi dan membasahi tubuh mereka, WUDHU melahirkan Kesatuan dan Persatuan Umat Islam Indonesia. Jakarta Menjadi saksi dan disaksikan oleh Rakyat Indonesia di seantaro nusantara bahkan dunia termasuk pula warga dunia lainnya. Revolusi akan lahir bukan lagi dengan KOPI sebagai Sentral Inspirasi. KOPI akan tergantikan oleh WUDHU. WUDHU akan menjadi alat Vital REVOLUSI. WUDHU adalah REVOLUSI. 

Revolusi yang menandakan kebangkitan Islam akan terjadi dengan WUDHU. Entah TURKI atau INDONESIA atau negara islam lain sebagai tempat kebangkitan atau Revolusi itu terjadi, penulis sebagai orang yang pernah mempelajari tentang Sejarah kebudayaan islam sejak umur 15 tahun, sangat menaruh harapan besar dan sangat optimis akan kebangkitan kembali kejayaan Islam melalui WUDHU.

Biarkan Kopi Mengungkap Rasanya, yang pasti KOPI akan tergantikan oleh WUDHU dalam soal REVOLUSI..!!! Dan KOPI akan tetap menjadi hidangan menarik bagi para penikmatnya.! 

MARI NGOPI akan tergantikan
MARI WUDHU..
INSYA ALLAH.
Amiiinn

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.