Header Ads

Budaya Membaca Melalui Gerakan Litari


Kepala Biro Jerat Dompu

Membaca menjadi tolak ukur tinggi rendahnya peradaban masyarakat. Sebuah masyarakat yang memiliki tingkat kegemaran membaca yang tinggi bisa dipastikan memiliki kualitas hidup yang lebih baik dari pada masyarakat yang tidak membaca. Mereka yang membaca akan tumbuh sebagai pribadi yang kreatif, terbuka, toleran dan memiliki jiwa yang lebih tinggi. 

Negara-negara maju ditingkat dunia seperti Jepang, berhasil membuktikan bahwa budaya membaca mampu mendorong kemajuan ekonomi, teknologi dan ilmu pengetahuan lainya. Masyarakat Jepang sangat suka membaca dan budaya ini tidak tumbuh dengan sendirinya, didesain secara khusus oleh pemerintah bersama masyarakat. Hampir dalam semua kesempatan masyarakat Jepang sibuk dengan kegiatan membaca. 

Sesibuk apapun setiap orang tua dinegeri yang dikenal sebagai negri sakura tersebut, mereka selalu upayakan kelonggaran waktu untuk mendampingi anak-anaknya membaca bersama-sama. Bahkan disekolah – sekolah sudah ditanamkan budaya membaca. Mungkin kita semua masih ingat peristiwa Restorasi Meiji terjadi, yang pertamakali dipertanyakan oleh Kaisar Jepang adalah berapa banyak perpustakaan dan buku, berapa guru yang masih hidup dan berapa banyak bangunan sekolah yang masih berdiri. 

Sejak itu bangsa Jepang mengalami kebangkitan yang sangat signifikan sampai saat ini. Bagaimana dengan Indonesia? Di Negara kita Indonesia, membaca belum menjadi budaya, sebuah lembaga Internasional, PISA (Programme For International Student Assesment) merilis hasil penelitian terkait minat baca dan menulis di Indonesia. 

Indonesia berada pada peringkat 64 dari 65 negara di Dunia. Sedangkan di ASEAN sendiri Indonesia kalah jauh dibanding Negara Vietnam yang menempati urutan ke 20. Kondisi tersebut tidak hanya pada kalangan umum, lingkungan pelajar atau dunia pendidikan pun masih jauh dari budaya literasi. Hal ini, PISA juga melakukan penelitian terhadap siswa-siswi di Indonesia, Siswa-siswi Indonesia berada diurutan 57 dari 65 Negara dalam hal kemampuan membaca. 

Lain halnya dengan UNESCO (Thn 2012), indeks minat baca masyarakat Indonesia sebesar 0.001% (dari 1000 penduduk, hanya 1 yang gemar membaca) Kenapa kita belum terbiasa membaca menulis? Secara umum yang melatarbelakangi ini dipahami sebagai sebuah kondisi yang ada dalam masyarakat, kesadaran sangat rendah tentang pentingnya membaca,meraka beranggapan bahwa membaca hanya menghabiskan waktu saja dan tidak mendatangkan manfaat, lebih baik bekerja yang dapat menghasilkan uang, padahal pekerjaan apapun membutuhkan bacaan.

Keyakinan ini juga ada dikalangan sebagian pelajar, mereka membaca hanya pada saat menjelang ujian dan ingin mendapat nilai lulus, mereka tidak mau membaca untuk kepentingan yang lain. Taufik Ismail pernah melakukan penelitian pada tahun 1996, beliau menemukan perbandingan tentang budaya baca dikalangan pelajar, rata-rata lulusan SMA di Jarman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 judul buku, Rusia 12 judul buku, Singapura dan Malaysia 6 judul buku, Brunei Darussalam 7 judul buku. 

Sedangkan Indonesia 0 buku, sungguh sangat ironis dan memprihatinkan Sebuah tulisan Dr. Arief Budiman, yang mengutip penelitian D. David McClelland, tentang kaitan antara kemajuan suatu bangsa dan dunia cerita (Baca). Awalnya D. David McClelland, mempertanyakan mengapa ada bangsa-bangsa tertentu yang rakyatnya suka bekerja dan mengapa ada yang tidak suka bekerja. Dia membandingkan Bangsa Inggris dan Spanyol, yang pada abad ke 16 kedua negara tersebut tumbuh sebagai negara raksasa yang kaya raya, sejak itu Inggris berkembang makin besar, sedangkan Spanyol menurun dan menjadi sebuah Bangsa yang lemah. 

Pertanyaanya mengapa demikian? apa sebabnya? D. David McClelland, menemukan jawabannya setelah memeriksa semua aspek. D. David McClelland mulai memperhatikan hal lain yaitu Cerita ( Baca ) dongeng anak-anak yang berkembang pada kedua negara tersebut. Ternyata Dongeng dan cerita anak-anak yang diperoleh dari membaca itu mengandung semacam “ Virus “ yang menyebabkan pendengar dan pembacanya terjangkit penyaki “ butuh prestasi” ( The Need for Achievement).
Sedangkan dongeng dan cerita yang berkembang di negara Spanyol justru menina bobokan tidak mengandung unsur motivasi.(Arif Budiman, 1995) Begitupun yang terjadi pada Bangsa Yahudi yang terkenal dengan Bang sayang melahirkan banyak ilmuan terkenal, ternyata kebiasaan Bangsa Yahudi terkhusus pada ibu-ibu hamil, sudah membacakan buku untuk bayinya sejak usia kehamilanya dua bulan sampai melahirkan.

Bukan hanya baca, mereka akan mengerjakan soal matematika dan fisika hanya untuk kepentingan sang bayi dalam kandungan. Hal ini sudah menjadi tradisi mereka. Membaca adalah metode komunikasi universal yang sangat berpengaruh pada jiwa manusia.

Bahkan dalam kitab Suci Al Qur’an, hal utama dan pertama diperintahkan adalah membaca “ IQRO” kenapa membaca? Kerana dalam kitab suci Al Qur’an, banyak berisi cerita atau kisah yang mendidik jiwa manusia menuju keimanan dan kebersihan rohani dengan mengajak semua umat manusia berpikir, berenung,menghayati, meresapi pesan-pesan moral yang terdapat dalam firman-Nya Untuk membangun budaya membaca melalui gerakan literasi, ada baiknya kita semua menumbuhkan minat baca sedini mingkin, di rumah, di sekolah, di kantor, di pasar atau dimanapun kita berada, hal ini bias kita biasakan wajib membaca 15 menit sebagaimana yang sudah diinstruksikan oleh Bapak Anies Baswedan, melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Permen) Nomor 23 Tahun 2015. Adapun manfaat membaca.

Yakni, 1. Dapat menstimulasi otak, 2. Dapat mengurangi stres, 3. Menambah wawasan dan pengetahuan, 4 Dapat menambah kosa kata, 5. Dapat meningkatkan kualitas memori, 6.Melatih keterampilan untuk berpikir, 7. Dapat meningkatkan Fokus dan Konsentrasi, 8. Melatih untuk dapat menulis dengan baik, 9. Dapat memperluas pikiran, 10. Dapat meningkatkan hubungan sosial, 11. Dapat mencegah penurunan fungsi Kognitif, 12. Dapat meningkatkan empati seseorang, 13. Dapat mendorong tujuan hidup seseorang, 14. Dapat membantu terhubung dengan dunia luar, 15. Dapat lebih berhrmat. Dengan demikian, mari kita mulai dari sekarang untuk budayakan membaca menuju sebuah perubahan. (Denganmembaca mampu membuka pintu dan jendela dunia. - Anonim)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.