Header Ads

Lagi, Mubin Buat Sensasi

Sebelumnya Bendahara BOS, Kali Ini Satu Orang Wakasek Undur Diri

foto ilustrasi

Bima, JERAT Online_Belum lepas dari jerat kasus pengalihan rekening proyek, menyusul statementnya terhadap tim IDP yang sempat membuat mayoritas pahlawan Pasangan Bupati Bima kebakaran jenggot yang berujung pada tunduknya arogansi Mubin dihadapan wakil bupati bima.

Sederet sensasi kontrofersi yang disodorkan Nurul Mubin, S.S.,M.Pd Plt SMAN 1 Monta di dunia pendidikan, mulai dari pengklaimannya sebagai kepala sekolah difinitif dengan tidak mencantumkan Plt dalam penandatanganan administrasi sekolah, hingga pengunduran diri bendahara BOS secara tiba-tiba.

Di tengah namanya disanding dengan predikat  kontrofersi sekaligus pembangkangan akan kedudukannya saat ini, yang menggiringnya ke hadapan kepala dinas Dikpora kabupaten bima untuk mempertang-gungjawabkan kebijakannya selama dipercaya sebagai Plt.

Sempat, Mubin berulah dengan arogansinya berlaku kasar kepada salah satu wakasek kesiswaan yang berujung pada pengunduran diri sang wakasek.

Drs. Rustan wakasek kesiswaan terpaksa memilih mundur karena tidak tahan diperlakukan kasar oleh Plt Kepala Sekolah, demikian pengakuannya saat dikonfirmasi rabu (25/5). “Sebenarnya persoalan sepele, tapi saya terlanjur dipermalukan di depan umum,” terang Rustan di kediamannya.

Didampingi Istri, salah satu guru senior di SMAN 1 Monta ini menguraikan kejadian itu berawal ketika ia berinisiatif menelpon wakasek kurikulum untuk menanyakan proses penyaluran dana BSM yang baru saja dicairkan di BNI Tente, “Uang sudah ada di tangan kepala sekolah sejak selasa sore, sehingga pagi tadi saya coba untuk konsultasi dengan pak Yususf (wakasek kurikulum) untuk proses penyaluran dana,” ungkapnya.

“Namun saya tidak menyangka kalau dia (Plt-red) tersinggung sehingga tiba-tiba menghampiri kami yang sedang duduk di ruang TU lalu menegur sambil menendang kursi yang ada dihadapan saya,” ungkap Rustan.

Pengunduran diri ini dipilih karena Rustan berpikir untuk menghindari benturan, “Saya tidak sanggup bekerja dibawah tekanan seperti ini, rekan-rekan lain juga mengalami hal yang sama. Kesabaran kita ada batasnya, jika saya tetap menjadi wakasek dengan perlakuan seperti itu dikuatirkan terjadi benturan fisik dan itu jelas mencoreng dunia pendidikan. Bagaimana pandangan siswa nantinya,” ketusnya.

Menurutnya tidak kali ini, pola kepemimpinan yang arogan kerap dipertontonkan mulai dari menendang pagar gerbang, membanting kursi hingga mengamuk di ruang computer. “Puncaknya teman-teman mengancam untuk mogok sebab kita sebagai guru jika mengajar dalam kondisi seperti ini bagaimana bisa menyalurkan ilmu kepada siswa,” tutup Rustan.[Jerat Team]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.