Header Ads

Abdillah Ajak Warga Sie Lestarikan Hutan

Usaha Ekonomi Produktif Sebagai Sebuah Solusi 
Abdillah Saat Foto Bersama Masyarakat Desa Sie, Kecamatan Monta. (FOTO: Leo)
Bima, Jerat Online - Dam Pela-Parado adalah salah satu bendungan terbesar yang ada di NTB. Dam yang didirikan tahun 2005 ini menelan biaya sedikitnya 50 milyar dengan harapan  akan mampu menyuplai kebutuhan air di lima kecamatan.

Dengan ratusan ribu Hektar are hutan yang menjadi andalan untuk pelindung ditambah lagi sebuah bendungan yang dinamakan Dam Meku dibangun untuk penampung sejumlah mata air di sebelah barat Dam Pela-Parado.

Semua sumber daya yang ada sebagai penunjang berdirinya Dam ini sudah sangat memadai dan mampu diandalkan untuk kebutuhan air seluruh warga kabupaten dan Kota Bima sampai ratusan tahun.

Namun harapan itu dikalahkan juga oleh ulah masyarakat sebab hutan lindung yang menjadi satu-satunya faktor penunjang utama bagi mata air saat ini telah mulai kehilangan fungsinya, puluhan kubik kayu gelondongan yang berasal dari kawasan lindung tersebut dijarah setiap harinya oleh warga sekitar hutan terutama masyarakat Desa Sie.

Tangan pemerintah seolah tidak dapat menggapai para pelaku perusak hutan kendati berbagai upaya telah dilakukan untuk membuat jera para pelaku.

Akibatnya debit air Dam Pela Parado sudah sangat minim, beberapa tahun terakhir jangankan kecamatan lain, petani Kecamatan Monta yang sangat bersentuhan langsung dengan Dam ini telah mengalami krisis air.

Kondisi ini jika tidak segera dipikirkan dan ditemukan solusinya maka tidak menutup kemungkinan bangunan yang menyimpan kehidupan jutaan umat ini akan kehilangan fungsinya. Asa untuk menjadikan Bima sebagai Lumbung Pangan hanya akan jadi sebuah mimpi.

Tidak demikian bagi Abdillah H.M Saleh, S.Pd ketua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Pantai Wane, Kecamatan Parado, menurutnya belum terlambat untuk berbenah, “Harus kita akui kondisi hutan kita sekarang sudah sangat memprihatinkan, namun sekaranglah saatnya untuk berbuat mengembalikan hutan pada fungsinya,” ujarnya saat mengemukakan wacanya di Desa Sie, Kecamatan Monta pekan lalu.

Menurut kepala SDN Parado II ini masyarakat tidak sepenuhnya harus disalahkan atas kerusakan hutan sebab hal ini berurusan dengan kebutuhan perut, “Jika saja ada lahan pekerjaan lain untuk sumber nafkah, saya yakin para pelaku penjarah hutan tidak akan melirik hutan sebagai  tempat pencaharian. Untuk itu kehadiran kami di sini atas nama PKBM Pantai Wane siap untuk menjembatani warga dengan pemerintah mencari solusinya,” ungkap pria sederhana ini.

Pencetus home industri untuk warga miskin ini memiliki keyakinan besar bahwa pemerintah akan siap membantu sebab satu-satunya cara yang praktis untuk mengalihkan aktivitas para pelaku tersebut adalah dengan memberikan kesibukan usaha ekonomi produktif.

Dalam konsepnya Abdillah berencana untuk mengajukan proposal kepada pemerintah pusat dalam bentuk peternakan, mebelair dan life skill, “Dengan cara ini saya yakin masyarakat sudah tidak lagi merusak hutan karena mereka telah disibukkan dengan usaha yang lebih menguntungkan,” ungkapnya optimis.

Direncanakan bahwa proposal itu akan diajukan langsung ke pemerintah pusat tanpa melalui perantara sebab dengan cara itu ia akan leluasa mengemukakan alasan-alasan yang logis untuk dapat dipahami oleh pemerintah, “Tentunya dalam waktu dekat kami akan menggelar pertemuan akbar dengan menghadirkan seluruh komponen di lima kecamatan yang pada pertemuan itu kami akan mengundang Plt Bupati dan Bupati terpilih,” tutur Abdillah.

Wacana itu disambut baik oleh para warga, Solihin misalnya salah satu warga yang benar-benar menggantungkan hidupnya dari menebang kayu mengatakan bahwa dirinya sangat setuju dengan rencana tersebut dan ia berharap agar itu segera terealisasi. “Mengambil kayu itu resikonya besar disamping itu kita harus main 'kucing-kucingan' dengan petugas di hutan juga rawan terjadi kecelakaan, keluhnya.

[Leo]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.