Header Ads

Krisis Air Bersih, Warga Tambora Butuh Perhatian Pemerintah

Jarwadin Aktivis dan Pemerhati Gunung Tambora. (FOTO: Son)














Bima, Jerat Online - Musim kemarau yang masih terus terjadi hingga saat ini, membuat sejumlah daerah di Kabupaten Bima mengalami krisis air bersih. Air yang menjadi salahsatu kebutuhan dasar dan menjadi elemen terpenting dalam kehidupan manusia menjadi sangat sulit dirasakan oleh warga saat ini.

Bahkan untuk memenuhi kebutuhan air, beberapa warga di tujuh desa di Kecamatan Tambora hanya memanfaatkan rembesan air pegunangan dan air sungai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Krisis ini terus saja terjadi dari tahun ketahun dan belum ada perhatian pemerintah,”  ungkap Jarwadin aktivis dan pemerhati Gunung Tambora asal Desa Oi Bura, Kecamatan Tambora ini.

Berbagai upaya telah dilakukan warga untuk mengatasi krisis air bersih, mulai dari mendatangi kantor pemerintah, menghubungi insatansi terkait, mengajukan proposal dan mengajukan usulan pada saat Musrenbang tingkat Kecamatan, namun semua itu nihil karena hingga saat ini belum ada tanggapan dari pemerintah.

Bertahun-tahun warga tambora hanya hidup dengan resapan air pegunungan dan air sungai, namun akhir-akhir ini menjadi sangat sulit karena musim kemarau yang masih terus terjadi sehingga mengakibatkan debit air yang ada tidak mencukupi untuk kebutuhan masyarakat sekitar.

Jika harus memilih, ucap Jarwadin masyarakat  tambora khususnya di Desa Oi Bura rela untuk tidak dibuatkan jalan beraspal dan tidak tersentuh berbagai macam pembangunan seperti daerah lain asalkan pemerintah dapat memberikan bantuan sarana air bersih bagi kebutuhan masyarakat.

“Masyarakat Tambora hanya meminta agar pemerintah membantu untuk memberikan sarana air bersih yang menjadi kebutuhan dasar saat ini,” harapnya.

Menurut Jarwadin, ada dua solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi krisis air bersih di tambora yaitu dengan cara pengeboran air tanah yang menggunakan bor  Canada dengan kedalam 100 meter dan pipanisasi yang mengambil sumber mata air di sekitar Pos II pendakian Gunung Tambora yang jaraknya lebih kurang 7 kilo meter dari Desa Oi Bura.

“Jika dua cara ini terealisasi maka masyarakat tambora tidak lagi mengalami kesulitan dengan air bersih,” katanya, Rabu (28/10/2015).

Meski hingga saat ini belum ada tanggapan pemerintah terkait terjadinnya krisis air bersih di wilayah tambora, Jarwadin mengaku tidak akan putus asa untuk terus memperjuangkan dan menkampanyekan apa yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat tambora, khususnya krisis air bersih yang terjadi hari ini. (Son)

1 komentar:

  1. Semoga pemerintah masih peduli akan saudara2 kami yg jauh diTambora. Salam sukses tuk saudara alias HeraKu, pak Jarwadin.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.